Alam Sudah Mulai Aneh ….Hal itu dapat kita lihat dari adanya berbagai fenomena alam seperti yang baru saja terjadi terdapat perdebatan yang terjadi antara para ahli geometri ( ilmuan) dengan para ahli tafsir maupun para peneliti mahluk ruang angkasa terhadap penemuan jejak yang dianggap sebagai tapak tilas dari sebuah UFO (Unidentifield Flying Object) di lokasi persawahan Dusun Rejosari. keanehan alam juga tampak dari munculnya mahluk-mahluk ciptaan tuhan yang tidak secara normal misalnya tumbuhan yang bentuknya menyerupai anatomi tubuh manusia, Babi, ular berkepala dua, Manusia kembar siam dimana dua sosok tubuh manusia menyatu menjadi satu dan beberapa benda-benda aneh lainnya seperti batu mengapung  yang hal tersebut tidaklah dapat di teliti secara tafsir karena keterbatasan kemampuan manusia mengapa itu tidak kita jadikan sebagai suatu bukti akan kemaha kuasaan Sang pencipta??? mengapa hal itu diperdebatkan? mengapa dengan adanya hal tersebut kita tidak bergegas untuk mendekatkan diri kepada yang maha kuasa? begitu halnya dengan gunung merapi, lautan mulai demontrasi kekuasaaan dan mencari perhatian manusia yang merasa telah terabaikan…, gunung menyeburkan lahar padas dan lahar dinginnya merusak pemukiman penduduk… apakah kita tidak sadar bahwa kita diingatkan agar kita mulai bersahabat dengan alam??? pepohonan yang dibabat habis oleh manusia membuat hutan menjadi gundul maka tak salah bila hutan juga menggunduli manusia karena hukum karma itu ada, alam akan bersahabat kepada manusia apabila manusia juga bersahabat dengan alam, alam akan melindungi manusia apabila manusia juga melindungi alam, alam akan memberikan kasih sayang melalui sumber kehidupan yang dibutuhkan oleh manusia apabila manusia mau merawat alam dengan penuh kasih-sayang hingga alam menjadi lestari dan manusiapun akan hidup tenang dan harmonis ingatlah Tri Hitta Karana dan amalkanlah mulai sekarang…

Tri Hita Karana berasal dari bahasa sankerta, yaitu berasal dari kata Tri, Hita dan Karana dimana Tri artinya tiga, Hita berarti baik, senang, gembira, lestari, karana berarti penyebab atau sumbernya penyebab. Jadi tri hita karana artinya tiga unsur yang memungkinkan timbulnya kebaikan, ketiga unsur yang dimaksudkan dalam tri hita karana itu, yaitu: unsur jiwa (atma); unsur tenaga, kekuatan, prana; unsur badan usadah (sarira). Jika kita lihat dari veda yang  berkaitan dengan tri hita karana, nampak jelas tertuang dalam kakawin Ramayana sargah I.3 yaitu bagaimana sang Dasaratha berbuat kasih kepada sesama mahluk ciptaan Tuhan, berbuat pemujaan kepada leluhur, dan pemujaan kepada dewa-dewa. ( Jaman, 2006: 3) :

Dasaratha (manusia) memuja, menghormati, berbakti kepada Dewa (Tuhan), Leluhur (Manusia yang masih hidup maupun yang telah meninggal), dan Mahluk (alam beserta isinya) sehingga tercipta perilaku yang seimbang, selaras, serasi manusia terhadap sesamanya, terhadap Tuhannya, terhadap alam semesta beserta isinya akan menjadi manusia utama seperti halnya sang Dasaratha. Jadi tri hita karana sebagai perwujudan kesejahteraan dan kebahagiaan dimana ketiga unsur Ida Sang Hyang Widhi / Tuhan (super natural power), manusia (micro kosmos), dan alam semesta/bhuana (macrokosmos) harus saling menjaga. Hal inilah yang menjadi pola dasar tatanan kehidupan umat Hindu, yang dijadikan budaya perilaku sehari-hari sehingga muncul konsep tri hita karana mengajarkan pola hubungan yang harmonis (selaras, serasi, dan seimbang) di antara ketiga sumber kesejahteraan dan kebahagiaan ini yang terdiri dari unsur:

  1. Parahyangan, harmonis antara manusia dengan  sang pencipta ( dalam konsep Hindu disebut Brahman)
  2. Pawongan, harmonis antara manusia dengan sesama manusia (Microkosmos)
  3. Palemahan, harmonis antara manusia dengan bhuana (Macrokosmos)

Konsep ajaran tri hita karana ini juga mendapat inspirasi dari Bhagawad Gita III.10 yang sloka bunyinya sebagai berikut:

Saha-yajnah prajah srstva

Purovacha Prajapatih

Anena prasavisyadhwam

Esa vo’stv  ista-kama-dhuk

Artinya :

Dahulu kala Prajapati (Hyang Widhi) mencipta manusia bersama bakti persembahannya dan berkata: dengan ini engkau akan berkembang biak dan biarlah jadi sapi perahan (kamaduk).

 

Yang dimaksud dengan sapi perahan, yang bisa memenuhi segala keinginan itu (kamaduk) tidak lain adalah bumi, ibu pertiwi ini  sebagaimana disebutkan dalam kitab mahabaratha (edisi Bom-bay VI.9.76): “alam adalah pemberi segala kebaikan , alam adalah sapi yang  bisa memenuhi segala keinginan (kamaduk) hal ini jelas memberikan penegasan kepada kita bahwa  cinta kasih dari seorang ibu terhadap anak-anaknya yang tiada terputus adalah ibarat cinta kasih ibu pertiwi (alam semesta) yang memberi makanan yang tiada henti-hentinya kepada mahluk hidup sebagai anak-anaknya.

“Stop Perusakan Lingkungan”