Tiga ulama yang telah dinobatkan menjadi Raja dan Datu tersebut kemudian mendapat gelar kehormatan masing-masing; Raden Mas Kerta Jagad diberi gelar Pemban Pengerakse atau Pengemban Jagad Haji Abdul Malik, kemudian Raden Mas Kerta Pati diberi gelar Pengiring Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Rauf dan seorang lagi yang wanita diberi gelar Pengabih Pemban Pengerakse Jagad Raden Ayu Mas Dewi Anjani yang terakhir ini konon selain sebagai seorang wanita yang shaleha, beliau juga terkenal karena memiliki ilmu kanuragan yang muphuni seorang satria atau Srikandi pilih tanding dan beliau menguasai jin Islam, sehingga beliau disebut dengan gelar “Pengabih artinya yang mengabihi atau membentengi Raja atau Pemban alias Panglima Perang.

Dari situs Kemalik Lingsar ini kemudian Datu Telu Besanakan membagi tugas dakwahnya masing-masing. Pemban Pengerakse atau Pengemban Jagad Haji Abdul Malik tetap tinggal di Lingsar untuk melanjutkan dakwahnya, Pengiring Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Rauf melanjutkan dakwahnya ke Bali Utara sekitar kawasan Gunung Agung dan Pengabih Pemban Pengerakse Jagad Raden Ayu Mas Dewi Anjani melanjutkan dakwahnya ke Gunung Rinjani, beliau lebih tertarik melakukan ajaran syariat Islam kepada Jin. Pembagian tugas dakwah mereka dimulai setelah terjadi sebuah fenomena alam yang sangat sensasional yang berlangsung di areal Kemalik Lingsar yang dikenal dengan sebutan Rarak Kembang Waru“.

Peristiwa Rarak Kembang Waru suatu kejadian luar biasa yang menunjukkan keramahan Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Malik. Dimana di suatu malam yang cerah, bulan mengembang di langit dunia dengan cahayanya yang temaram, diiringi bintang-bintang yang berkelip bagaikan mutu manikam menghias lazuardi seakan-akan tidak jemu menatap tajam kearah seorang hamba Allah SWT, yang sedang berhalwat dengan khusuknya di sebuah lembah bukit kecil yang tandus dan gersang, hanya sebatang pohon waru yang mampu bertahan hidup di tempat itu. Sekiranya sang bagaskara tidak segera menampakkan diri di ufuk timur, dia seakan tidak sudi masuk keperaduannya, namun ruapnya sebelum dia bergegas menuju ke tempat peristirahatannya, dia telah berdo’a “Semoga Allah mengabulkan do’a dan ahjat hamba Allah yang sedang berhalwat di kaki bukit itu “.(Soeparman Taufik dalam wawancara peneliti pada tanggal 23 November 2010)

Sang mentari hari itu cahayanya tidak leluasa menembus permukaan bumi karena terhalang oleh awan pekat mengandung bintik-bintik air, sehingga tidak terasa perjalanannya sudah cukup jauh memasuki waktu shalat Ashar. Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Malik lalu bangun berdiri dari tempatnya berhalwat. Beliau lalu berjalan menuju ke sebatang pohon waru di kaki bukit itu dengan membawa sebatang tongkat terbuat dari kayu sulaiman yang selalu menemani perjalanannya, beliau lalu berdo’a kepada Allah SWT, agar tanah kawasan Lingsar yang tandus dan gersang ini dapat berubah menjadi tanah yang subur. Kemudian beliau mengangkat tongkatnya lalu menancapkannya ke dalam tanah dan berkat kekaromahan beliau dan dengan Kun Fayakun Allah, tiba-tiba sebuah mata air yang besar keluar dengan derasnya dari bawah pohon waru di kaki bukit itu dan bersamaan dengan itu bunga-bungaan waru di tempat itupun berguguran, sehingga kejadian itu disebut “Rarak Kembang Waru“ dan langit yang diliputi mendungpun mencurahkan hujan yang begitu besar bagaikan ditumpahkan begitu saja dari langit, dan sejak itu nama Lingsar mulai terdengar, sebab Lingsar berarti “ Ling “ sama dengan Ongkat/Uni dalam bahasa Sasak; sedangkan “ Sar “ adalah bunyi air yang keras; maka Lingsar berarti Suara Air “.

Fenomena di atas itulah yang kemudian diperingari setiap tahun sejak Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Malik masih berada di situs Kemalik itu ingga saat sekarang ini, dan peristiwa tersebut berlangsung saat Purnama sasih kepitu menurut warga Sasak. Dan untuk mengabadikan perjalanan sejarah dari keberadaan Datu Telu Besanakan agar tetap diingat dan dikenang selamanya, maka umatnya membangun sebuah tarian Batek Baris lengkap dengan hulu balangnya. Penari Batek Baris itu merupakan personifikasi dari Pengiring Pengabih Pemban Pengerakse Jagad Haji Abdul Malik. Untuk selanjutnya sebagai wujud rasa syukur umat Sasak pengikut Datu Telu kepada Allah SWT dan sebagai rasa terima kasih kepada Baginda Pemban Pengerakse Jagad, setiap Purnama sasih kepitu selalu mengadakan kegiatan ritual religius dan ritual budaya, kegiatan ritus religinya berupa acara Haulan yang diisi dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Qur’an, Zikrullah, Salawat dan do’a dilakukan oleh para jemaah dan tokoh agama dan masyarakat di bawah pimpinan Penghulu Desa Lingsar. Sedang acara ritual budayanya berupa napak tilas secara simbolis diapresiasikan dalam sebuah pragmen kolosal dan dilanjutkan dengan acara “ Perang Tupat “, sebagai sebuah simbol perang melawan syaitan, keserakahan, kebatilan serta kemaksiatan dan lain-lainnya.

Bahwa upacara umat Suku Sasak dimaksudkan di atas, kemudian oleh Anak Agung Ketut Karangasem Raja Mataram turut serta meresponnya bahkan beliau sendiri bersama umat Hindu lainnya melakukan upacara              “Pujawali ” sesuai dengan versi dan persepsi Agama Hindu yang memiliki keyakinan bahwa di Lingsar bersemayam Batara Gede Lingsar sebagai manifestasi Tuhan Yang Maha Esa, kemudian rekan umat Hindu juga dalam upacara Pujawalinya mengusung atau menyongsong Betara Gunung Agung dan Betara Gunung Rinjani.